Minggu, 10 April 2016

HERBARIUM

LAPORAN
IDENTIFIKASI TUMBUHAN DI LINGKUNGAN SEKITAR DAN PEMBUATAN HERBARIUM
Rumput Israel (Asystasia gangetica)
(Acanthaceae)


Oleh    :
Nama : Ferlina Cahyusari
NIM : 14680030

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum.wr.wb
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas proyek individu : Identifikasi Tumbuhan di Lingkungan Sekitar dan Pembuatan Herbarium ini dengan baik.
Dalam laporan ini berisi tentang identifikasi tumbuhan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Desember 2015 di Gunung Api Purba, Nglanggeran.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah banyak berperan khususnya kepada Bapak Dr.Widodo, M.Pd selaku dosen mata kuliah Sistematika Tumbuhan yang telah membimbing serta memberikan ilmu pengetahuannya sehingga pada akhirnya laporan ini dapat selesai dengan baik.
Dalam penulisannya penulis menyadari bahwa laporan ini tentunya masih memiliki banyak kekurangan. Maka dalam kesempatan ini penulis memohon maaf atas segala keterbatasan yang terdapat dalam laporan. Semoga laporan ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis, dan umumnya bagi para pembaca.
Wassalamu’alaikum.wr.wb


Yogyakarta, 14 Desember 2015

Penulis




DAFTAR ISI
Halaman Judul .......................................................................................................................i
Kata Pengantar ......................................................................................................................ii
Daftar Isi ..............................................................................................................................iii
I.                   PENDAHULUAN .............................................................................................1
A.    Latar Belakang..............................................................................................1
B.     Tujuan.......................................................................................................... 2
II.                TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 3
A.    Herbarium.....................................................................................................3
B.     Famili Acanthaceae .....................................................................................5
III.             METODOLOGI PENELITIAN .......................................................................6
IV.             HASIL PENGAMATAN .................................................................................8
V.                PEMBAHASAN ..............................................................................................9
VI.             PENUTUP ......................................................................................................10
VII.          DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 11
VIII.       LAMPIRAN....................................................................................................12












I.                   PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bagi dunia ilmu pengetahuan, koleksi herbarium merupakan obyek studi utama yang tak ternilai harganya. Tidak mengherankan bila gedung-gedung untuk menyimpan koleksi itu merupakan bangunan yang megah dengan tokoh-tokoh kenamaan. Sesuai dengan ruang yang tersedia dalam gedung herbarium, koleksi herbarium baik kering maupun basah dipisah-pisah dan ditata di ruang yang tersedia untuk masing-masing takson menurut klasifikasi yang dibuat oleh para ahli dalam lembaga tersebut. Terdapat ruang-ruang khusus untuk Cryptogamae, Phanerogamae, Algae, Fungi, Bryophyta, Pteridophyta, Gymnospermae dan Angiospermae. Selanjutnya, koleksi disusun lagi berdasarkan takson yang lebih rendah dan ditata menurut abjad (Tjitrosoepomo, 1993).
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Arber, 1938). Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku sebagai koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 Ramadhanil dan Gradstein – Herbarium Celebense 39 praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa (Ramadhanil, 2003).
Untuk koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya, pengawetan dan penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula kelestarian objek tersebut. Perlu ada pembatasan pengambilan objek. Salah satunya dengan cara pembuatan awetan. Pengawetan dapat dilakukan terhadap objek tumbuhan maupun hewan. Pengawetan dapat dengan cara basah ataupun kering. Cara dan bahan pengawet nya bervariasi, tergantung sifat objeknya. Untuk organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan dengan awetan basah. Sedang untuk daun, batang dan akarnya, umumnya dengan awetan kering berupa herbarium (Suyitno, 2004).
Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar, sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, misalnya buah (Setyawan dkk, 2004).
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting dalam praktek pembuatan    herbarium. Spesimen   herbarium   yang   baik   harus   memberikan   informasi terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para peneliti. Dengan kata lain, suatu koleksi tumbuhan   harus    mempunyai    seluruh   bagian   tumbuhan   dan  harus    ada   keterangan yang     memberikan     seluruh     informasi     yang    tidak   nampak    spesimen  herbarium
 (Aththorick dan Siregar, 2006).
Asystasia gangetica merupakan gulma tahunan yang tumbuh merayap membentuk belukar yang sangat tebal. Pembungaan dan produksi biji terjadi sepanjang tahun (Kiew & Vollesen, 1997). Pada tempat yang ternaungi, A. gangetica akan tumbuh membentuk organ-organ vegetatif yang lebih banyak, sebaliknya pada tempat terbuka akan memproduksi lebih banyak bunga dan biji (Othman & Musa, 1992). Gulma ini mampu tumbuh dengan baik pada daerah tropis dan subtropis. Memiliki toleransi yang baik terhadap berbagai jenis tanah dan dapat ditemukan hingga ketinggian 500 mdpl (CRC, 2003).
B.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui tata cara pembuatan herbarium.
2.      Untuk mengenal dan mengidentifikasi spesimen Asystasia gangetica.










I.                   TINJAUAN PUSTAKA

A.  HERBARIUM
Herbarium berasal dari kata “hortus dan botanicus”, yang artinya kebun botani yang dikeringkan secara sederhana, yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistem klasifikasi (Sama, 2009).
Herbarium berguna dalam pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan. Pada tumbuhan tingkat rendah organ-organ tersebut adalah spora atau kumpulan-kumpulan spora dan bagian-bagian tertentu yang spesifik. Sedangkan untuk tumbuhan tingkat tinggi, bagian-bagian tersebut berupa bunga, buah, dan biji karena dasar klasifikasi tumbuhan tersebut adalah struktur bunga (Sama, 2009).
Adapun macam-macam herbarium di bagi menjadi dua yaitu :
a)    Herbarium basah 
Herbarium basah merupakan awetan dari suatu hasil eksplorasi yang sudah didentifikasi dan di tanam bukan lagi pada habitat aslinya. Spesiesmen tumbuhan yang telah diawetkan disimpan dalam suatu larutan yang di buat dari komponen macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda adapun zat yang di gunakan pada herbarium basah diantaranya akuades, formalin 4% asam cuka 40% terusi alkohol 50% dan gliserin 10%. (Matnawi 1989).
b)    Herbarium kering
Herbarium kering adalah awetan yang dibuat dengan cara pengeringan, namun tetap terlihat ciri-ciri morfologinya sehingga masih bisa diamati dan di jadikan perbandingan.  Zat yang di gunakan dalam proses ini, formalin 4% atau alkohol 70% (Matnawi, 1989).
            Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuatan herbarium :
1) Tahap pengumpulan
Pengumpulan tanaman dilakukan dengan melakukan eksplorasi di lapangan. Selanjutnya masukan tumbuhan yang diperoleh kedalam vasculum, atau dimasukan saja kedalam halaman sebuah buku yang tebal. Ambilah terutama dari bagian tumbuhan yang berbunga dan  berbuah. Bagian dari tumbuhan yang besar sedikitnya panjangnya 30-40 cm dan sedikitnya harus ada satu daun dan satu inflorescencia yang lengkap, kecuali kalau bagiannya yang khusus masih terlalu besar. Lihatlah bagian tumbuhan yang berada dibawah tanah. Serta mencatat hal-hal yang penting dan kehususan seperti : warna, bau, bagian dalam tanah, tinggi tempat dari permukaan laut, tempat, banyaknya tanaman tersebut (Triharto, 1996).
2) Cara pengeringan
Tumbuhan diatur diatas kertas kasar dan kering, yang tidak mengkilat, misalkan kertas Koran. Letakan diantara beberapa halaman yang dobel dan sertakan dalam setiap jenis catatan yang dibuat untuk tanaman tersebut. Juga biasanya digunakan etiket gantung yang diikatkan pada bahan tumbuh-tumbuhan, yang nomornya adalah berhubungan dengan buku catatan lapangan. Tumbuh-tumbuhan yang berdaging tebal, direndam beberapa detik dalam air yang mendidih. Lalu tekanlah secara perlahan-lahan. Gantilah untuk beberapa hari kertas pengering tersebut. Ditempat yang kelembabannya sangat tinggi, dapat dijemur dibawah sinar mata hari atau didekatkan di dekat api (diutamakan dari arang). Tanaman dikatakan kering kalau dirasakan tidak dingin lagi dan juga terasa kaku. Diusahakan bahwa seluruh sample terus-menerus dalam keadaan kering. Makin cepat mereka mengering, maka makin baik warna itu dapat dipertahankan (Triharto, 1996).
3)   Pengawetan
       Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat hygroscopis, akan mudah sekali terserang jamur. Oleh karena itu, penyimpanan herbarium di tempat kering dan jemurlah koleksi tersebut dibawah sinar matahari. Ddan dapat  di  taburi zat bubukan belerang, naphtaline atau yang lebih baik dapat digunakan paradichloorbenzol. Kedua zat yang terakhir ini menguap langsung dan terus-menerus (Triharto, 1996).
4)    Pembuatan herbarium
Tempel herbarium. Tempelkan nama pada kertas dengan kertas label. Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai tanggal, tempat ditemukan, tempat mereka tumbuh, nama penemu, catatan khusus, nama familia dan nama spesies (triharto, 1996).
Manfaat dan Kegunaan herbarium diantaranya, herbarium sangat penting artinya sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan penelitian dan identifikasi, hal ini memungkinkan  karena pendokumentasian tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lebih lama, kegunaan herbarium lainnya yaitu sebagai berikut (Sama,2009):
1.      Material peraga pelajaran botani
2.      Material penelitian
3.      Alat pembantu identifikasi tanaman
4.      Material pertukaran antar herbarium di seluruh dunia
5.        Bukti keanekaragaman
6.      Spesimen acuan untuk publikasi spesies baru (Sama,2009).

B.     FAMILI ACANTHACEAE
Acanthaceae ini adalah sebagian besar tumbuh-tumbuh atau semak yang terdiri dari sekitar 340 marga dan 2.500 spesies, termasuk bentuk-bentuk melilit.Familia Acanthaceae merupakan familia yang habitusnya berupa herba, perdu,pohon dan liana dengan daun tunggal tanpa stipula serta letak daun berhadapan, perbungaan majemuk atau tunggal , kelamin tumbuhan biseksual , simetri bunga aktinomorf, mahkota tetra atau pentamer, sepal bersatu, petal sympetal, bilabiatus, stamen 4, dydinamus, 2 epipetal, sering terdapat staminodium, pistil 1, stylus 1, stigma 1-2, letak ovarium superum dan buah tunggal. Familia ini terdiri dari sekitar 1000 spesies yang tergolong dalam kurang lebih 175 genus yang tersebar di daerah tropika.












II.                METODOLOGI PENELITIAN

A.    Waktu dan Tempat
Hari, tanggal         : Sabtu, 5 Desember 2015
Lokasi                   : Gunung Api Purba Nglanggeran

B. Alat dan Bahan
Alat
1.      Koran
2.      Kertas A3
3.      Map
4.      Alat tulis
5.      Gunting
6.      Isolasi
7.      Sasak
8.      Etiket gantung
9.      Blangko etiket


Bahan
1.      Spesimen yang diamati (Asystasia intrusa)

C.                 Cara Kerja
1.      Ambillah sampel, berupa bagian-bagian tumbuhan yang representatif (bunga, buah, dan biji). Bisa juga ditambahkan bagian-bagian lain yang mendukung misalnya daun, akar, dan batang yang memiliki perawakan yang khas.
2.      Letakkan sampel tersebut di atas kertas koran, kemudian dipres dengan sasak.
3.      Cara pengepresan adalah bagian paling bawah berupa sasak kemudian disusul dengan potongan kardus dan kertas koran di atasnya. Setiap sampel diberi pembatas berupa kertas koran, potongan kardus digunakan untuk membatasi setiap lima sampel. Satu set herbarium kit dapat digunakan untuk mengepres sampai 30 sampel, menyesuaikan dengan ukuran sampel-sampel tersebut.
4.      Untuk menghindari tumbuhnya jamur pada sampel-sampel tersebut dapat dilakukan dengan menyemprotkan formalin atau alkohol.
5.      Jangan lupa untuk memberikan etiket gantung pada setiap sampel, yaitu berisi keterangan mengenai nomor koleksi, tanggal pengambilan sampel, lokasi, dan nama jenisnya. Penulisan keterangan tersebut dilakukan dengan pensil.
6.      Keringkan sampel-sampel tersebut dengan dijemur atau dikeringanginkan. (sampel masih dalam keadaan dipres dengan sasak).
7.      Setelah tiga hari, umumnya sampel-sampel tersebut sudah cukup kering. Keluarkan sampel-sampel tersebut untuk ditempelkan pada kertas herbarium (A3).
8.      Sampel yang telah dikeluarkan dari sasak harus segera ditempelkan pada kertas herbarium dengan hati-hati.
9.       Bagian sampel yang akan direkatkan dengan selotip terlebih dahulu diberi sepotong kertas agar bagian lem dari selotip tidak bersentuhan langsung dengan sampel.
10.  Apabila sampel terlalu besar untuk ditempelkan pada kertas A3, sampel dapat dilipat atau dipotong pada bagian-bagian tertentu dengan hati-hati sehingga tidak menghilangkan ciri-cirinya.
11.  Lengkapi herbarium tersebut dengan etiket tempel yang berisi keterangan mengenai tanggal, habitatnya, klasifikasi tumbuhan tersebut dan catatan khusus (nama daerah, manfaat).
12.  Penulisan keterangan tersebut dilakukan dengan pulpen. Etiket ini ditempelkan pada pojok kanan bawah dengan sedikit lem pada sisi kanannya.













III.             HASIL PENGAMATAN

Gambar tanaman Rumput Israel (Asystasia gangetica)


Klasifikasi Asystasia gangetica (Cronguist, 1981)
Regnum      :  Plantae 
Divisio        :  Magnoliophyta/Spermatophyta
Classis       :  magnoliopsida/Dicotyledoneae
Ordo           :  Scrophulariales
Familia       :  Acanthaceae
Genus         :  Asystasia
Species       :  Asystasia intrusa













IV.             PEMBAHASAN

Dalam tugas individu ini, penulis mengidentifikasi salah satu tumbuhan yang bernama Asystasia intrusa. Nama lainnya adalah Asystasia gangetica. Dalam dunia tumbuhan termasuk ke dalam famili Acanthaceae,  genus Asystasia. Asal tumbuhan ini dari Afrika. Asystasia intrusa merupakan gulma penting di perkebunan. Akarnya melekat pada cabang.  Sistem perakaran tunggang, bercabang kecil dan memiliki bulu-bulu akar. Akar berwarna putih kecoklatan. Asystasia gangetica merupakan tanaman herba yang tumbuh cepat dan mudah berkembang biak. Berbatang lunak,  berwarna hijau kecoklatan dan  dapat tumbuh dalam keadaan yang kurang baik. Duduk daun berhadapan,  berbentuk bulat panjang,  pangkal bulat,  ujung runcing,  pertulangan daun menyirip dan bertangkai. Bunga tersusun dalam tandan yang rapat seperti bulir, berwarna putih atau keungu-unguan, kelopak bunga menutupi ovari. Buah kotak, 2-3 cm panjangnya,  dalam satu buah kotak  berbiji empat atau kurang. Saat buah belum masak kulit buah berwarna hijau, namun saat buah sudah masak maka kulit buah berwarna coklat. Bijinya kecil berwarna hitam kecoklat-coklatan,  kecil dan ringan sehingga mudah diterbangkan oleh angin.  Biji ini pecah dari polong dengan keadaan lingkungan yang tepat baik dari suhu dan penyinaran yang cukup. Bila penyinaran matahari lama saat biji pecah maka jarak loncat biji semakin jauh dari pohonnya.
Manfaat dari tumbuhan Asystasia gangetica adalah sebagai makanan kambing dan lembu. Selain itu juga digunakan sebagai obat. Pada ekstrak daun Asystasia gangetica berpotensi mengurangi tekanan darah, memperlambat detak jantung, serta mencegah hipertensi spontan.







V.                PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan. Terdapat dua cara pengawetan tumbuhan dalam herbarium yaitu, herbarium kering dan herbarium basah. Salah satu fungsi herbarium adalah sebagai bahan penelitian dalam bidang botani. Pembuatan herbarium memiliki beberapa tahapan seperti: pengambilan sampel, proses pengeringan/ pengawetan, dan proses identifikasi/labeling.
Tumbuhan Asystasia gangetica merupakan salah satu tumbuhan dari famili acanthaceae dan genus Asystasia. Termasuk tumbuhan gulma dalam perkebunan. Manfaat tumbuhan ini sebagai makanan kambing dan sebagai obat tradisional.
B.     SARAN
Adapun saran dari pembuatan herbarium adalah sebaiknya dalam membuat herbarium perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan herbarium diantaranya adalah suhu, waktu, faktor, dan kesulitan, sehingga dapat diperoleh hasil herbarium yang maksimal.











VI.             DAFTAR PUSTAKA

Aththorick,   T.A,   dan   Siregar  E.S.  2006.  Taksonomi    Tumbuhan.  Departemen Biologi  FMIPA USU. Medan
CRC. 2003. Weed management guide: Asystasia gangetica ssp. micrantha. In: Alert List For Environtmental Weeds (ed.) CRC for Australian Weed Management.
Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Classification of Flowering Plants. New York: Columbia University Press
Kiew, R., & Vollesen, K. 1997. Asystasia (Acanthaceae) in Malaysia. Kew Bulletin 52(4):965-971
Matnawi, H. 1989. Perlindungan Tanaman jilid 1. Kanisius : Yogyakatra Nuraenina
Othman, S. & Musa, M. K. 1992. The ecology of A. intrusa BI. In: Proc. Persidangan Ekologi Malaysia. 1:91-96
Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya dalam Menunjang PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. http://unsjournals.com. Diakses pada tanggal 14 Desember 2015 pukul 19.52 wib
Sama, Surya. 2009. Pengaweatan Tanaman dan Pengawetan Hewan.
       UPI : Bandung
Setyawan,  A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K  dan  Susilowati,  A. 2005. Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan  Objek  Biologi. Jurusan Biologi FMIPA UNY. Yokyakarta.
Tjitrosoepomo,G.1993. Taksonomi Umum Dasar-Dasar Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Triharto, Ahmad. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: UGM Press








VII.          LAMPIRAN

A.    LOKASI GOOGLE MAP
Gunung Api Purba Nglanggeran
































B.     GAMBAR  Asystasia gangetica






























C.     SKETSA  Asystasia gangetica