LAPORAN
IDENTIFIKASI
TUMBUHAN DI LINGKUNGAN SEKITAR DAN PEMBUATAN HERBARIUM
Rumput Israel (Asystasia gangetica)
(Acanthaceae)

Oleh :
Nama
: Ferlina Cahyusari
NIM
: 14680030
PENDIDIKAN
BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum.wr.wb
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah
SWT, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
proyek individu : Identifikasi Tumbuhan di Lingkungan Sekitar dan Pembuatan
Herbarium ini dengan baik.
Dalam laporan ini berisi tentang
identifikasi tumbuhan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Desember 2015 di
Gunung Api Purba, Nglanggeran.
Penulis mengucapkan
terimakasih kepada pihak yang telah banyak berperan khususnya kepada Bapak
Dr.Widodo, M.Pd selaku dosen mata kuliah Sistematika Tumbuhan yang telah
membimbing serta memberikan ilmu pengetahuannya sehingga pada akhirnya laporan
ini dapat selesai dengan baik.
Dalam
penulisannya penulis menyadari bahwa laporan ini tentunya masih memiliki banyak
kekurangan. Maka dalam kesempatan ini penulis memohon maaf atas segala
keterbatasan yang terdapat dalam laporan. Semoga laporan ini bisa bermanfaat
khususnya bagi penulis, dan umumnya bagi para pembaca.
Wassalamu’alaikum.wr.wb
Yogyakarta, 14 Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
.......................................................................................................................i
Kata
Pengantar
......................................................................................................................ii
Daftar
Isi
..............................................................................................................................iii
I.
PENDAHULUAN
.............................................................................................1
A. Latar
Belakang..............................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................
2
II.
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................
3
A. Herbarium.....................................................................................................3
B. Famili
Acanthaceae
.....................................................................................5
III.
METODOLOGI PENELITIAN
.......................................................................6
IV.
HASIL PENGAMATAN
.................................................................................8
V.
PEMBAHASAN
..............................................................................................9
VI.
PENUTUP
......................................................................................................10
VII.
DAFTAR PUSTAKA
....................................................................................
11
VIII. LAMPIRAN....................................................................................................12
I.
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Bagi dunia ilmu pengetahuan, koleksi
herbarium merupakan obyek studi utama yang tak ternilai harganya. Tidak
mengherankan bila gedung-gedung untuk menyimpan koleksi itu merupakan bangunan
yang megah dengan tokoh-tokoh kenamaan. Sesuai dengan ruang yang tersedia dalam
gedung herbarium, koleksi herbarium baik kering maupun basah dipisah-pisah dan
ditata di ruang yang tersedia untuk masing-masing takson menurut klasifikasi
yang dibuat oleh para ahli dalam lembaga tersebut. Terdapat ruang-ruang khusus
untuk Cryptogamae, Phanerogamae, Algae, Fungi, Bryophyta, Pteridophyta,
Gymnospermae dan Angiospermae. Selanjutnya, koleksi disusun lagi berdasarkan
takson yang lebih rendah dan ditata menurut abjad (Tjitrosoepomo, 1993).
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan
oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca
Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia
adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan
melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Arber,
1938). Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku sebagai
koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 Ramadhanil dan Gradstein – Herbarium
Celebense 39 praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa (Ramadhanil,
2003).
Untuk koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan
organ tubuhnya, pengawetan dan penyimpanannya. Koleksi objek harus
memperhatikan pula kelestarian objek tersebut. Perlu ada pembatasan pengambilan
objek. Salah satunya dengan cara pembuatan awetan. Pengawetan dapat dilakukan
terhadap objek tumbuhan maupun hewan. Pengawetan dapat dengan cara basah
ataupun kering. Cara dan bahan pengawet nya bervariasi, tergantung sifat
objeknya. Untuk organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan
dengan awetan basah. Sedang untuk daun, batang dan akarnya, umumnya dengan
awetan kering berupa herbarium (Suyitno, 2004).
Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa,
tidak terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus
pohon dan semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan
berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk
spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar,
sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek,
misalnya buah (Setyawan dkk, 2004).
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan
aspek penting dalam praktek pembuatan herbarium. Spesimen herbarium yang baik harus memberikan informasi
terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para peneliti. Dengan kata lain,
suatu koleksi tumbuhan harus mempunyai seluruh bagian tumbuhan dan harus ada keterangan
yang memberikan seluruh informasi yang tidak nampak spesimen herbarium
(Aththorick dan Siregar, 2006).
Asystasia
gangetica merupakan gulma tahunan yang tumbuh merayap
membentuk belukar yang sangat tebal. Pembungaan dan produksi biji terjadi
sepanjang tahun (Kiew & Vollesen, 1997). Pada tempat yang ternaungi, A.
gangetica akan tumbuh membentuk organ-organ vegetatif yang lebih banyak,
sebaliknya pada tempat terbuka akan memproduksi lebih banyak bunga dan biji
(Othman & Musa, 1992). Gulma ini mampu tumbuh dengan baik pada daerah
tropis dan subtropis. Memiliki toleransi yang baik terhadap berbagai jenis
tanah dan dapat ditemukan hingga ketinggian 500 mdpl (CRC, 2003).
B. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui tata cara pembuatan herbarium.
2. Untuk
mengenal dan mengidentifikasi spesimen Asystasia
gangetica.
I.
TINJAUAN PUSTAKA
A. HERBARIUM
Herbarium berasal dari kata “hortus dan
botanicus”, yang artinya kebun botani yang dikeringkan secara sederhana, yang
dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya
disusun berdasarkan sistem klasifikasi (Sama, 2009).
Herbarium berguna dalam pengenalan dan
identifikasi jenis-jenis tumbuhan. Pada tumbuhan tingkat rendah organ-organ
tersebut adalah spora atau kumpulan-kumpulan spora dan bagian-bagian tertentu
yang spesifik. Sedangkan untuk tumbuhan tingkat tinggi, bagian-bagian tersebut
berupa bunga, buah, dan biji karena dasar klasifikasi tumbuhan tersebut adalah
struktur bunga (Sama, 2009).
Adapun macam-macam herbarium di bagi
menjadi dua yaitu :
a)
Herbarium basah
Herbarium basah merupakan awetan dari
suatu hasil eksplorasi yang sudah didentifikasi dan di tanam bukan lagi pada
habitat aslinya. Spesiesmen tumbuhan yang telah diawetkan disimpan dalam suatu
larutan yang di buat dari komponen macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda
adapun zat yang di gunakan pada herbarium basah diantaranya akuades, formalin
4% asam cuka 40% terusi alkohol 50% dan gliserin 10%. (Matnawi 1989).
b) Herbarium kering
b) Herbarium kering
Herbarium kering adalah awetan yang
dibuat dengan cara pengeringan, namun tetap terlihat ciri-ciri morfologinya
sehingga masih bisa diamati dan di jadikan perbandingan. Zat yang di
gunakan dalam proses ini, formalin 4% atau alkohol 70% (Matnawi, 1989).
Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuatan herbarium :
1) Tahap pengumpulan
Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuatan herbarium :
1) Tahap pengumpulan
Pengumpulan tanaman dilakukan dengan
melakukan eksplorasi di lapangan. Selanjutnya masukan tumbuhan yang diperoleh
kedalam vasculum, atau dimasukan saja kedalam halaman sebuah buku yang tebal.
Ambilah terutama dari bagian tumbuhan yang berbunga dan berbuah. Bagian
dari tumbuhan yang besar sedikitnya panjangnya 30-40 cm dan sedikitnya harus
ada satu daun dan satu inflorescencia yang lengkap, kecuali kalau bagiannya
yang khusus masih terlalu besar. Lihatlah bagian tumbuhan yang berada dibawah
tanah. Serta mencatat hal-hal yang penting dan kehususan seperti : warna, bau,
bagian dalam tanah, tinggi tempat dari permukaan laut, tempat, banyaknya
tanaman tersebut (Triharto, 1996).
2) Cara pengeringan
2) Cara pengeringan
Tumbuhan diatur diatas kertas kasar dan
kering, yang tidak mengkilat, misalkan kertas Koran. Letakan diantara beberapa
halaman yang dobel dan sertakan dalam setiap jenis catatan yang dibuat untuk
tanaman tersebut. Juga biasanya digunakan etiket gantung yang diikatkan pada
bahan tumbuh-tumbuhan, yang nomornya adalah berhubungan dengan buku catatan
lapangan. Tumbuh-tumbuhan yang berdaging tebal, direndam beberapa detik dalam
air yang mendidih. Lalu tekanlah secara perlahan-lahan. Gantilah untuk beberapa
hari kertas pengering tersebut. Ditempat yang kelembabannya sangat tinggi,
dapat dijemur dibawah sinar mata hari atau didekatkan di dekat api (diutamakan
dari arang). Tanaman dikatakan kering kalau dirasakan tidak dingin lagi dan
juga terasa kaku. Diusahakan bahwa seluruh sample terus-menerus dalam keadaan
kering. Makin cepat mereka mengering, maka makin baik warna itu dapat
dipertahankan (Triharto, 1996).
3) Pengawetan
Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat hygroscopis, akan mudah sekali terserang jamur. Oleh karena itu, penyimpanan herbarium di tempat kering dan jemurlah koleksi tersebut dibawah sinar matahari. Ddan dapat di taburi zat bubukan belerang, naphtaline atau yang lebih baik dapat digunakan paradichloorbenzol. Kedua zat yang terakhir ini menguap langsung dan terus-menerus (Triharto, 1996).
Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat hygroscopis, akan mudah sekali terserang jamur. Oleh karena itu, penyimpanan herbarium di tempat kering dan jemurlah koleksi tersebut dibawah sinar matahari. Ddan dapat di taburi zat bubukan belerang, naphtaline atau yang lebih baik dapat digunakan paradichloorbenzol. Kedua zat yang terakhir ini menguap langsung dan terus-menerus (Triharto, 1996).
4) Pembuatan herbarium
Tempel herbarium. Tempelkan nama pada
kertas dengan kertas label. Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai
tanggal, tempat ditemukan, tempat mereka tumbuh, nama penemu, catatan khusus,
nama familia dan nama spesies (triharto, 1996).
Manfaat dan Kegunaan herbarium diantaranya, herbarium sangat penting artinya sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan penelitian dan identifikasi, hal ini memungkinkan karena pendokumentasian tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lebih lama, kegunaan herbarium lainnya yaitu sebagai berikut (Sama,2009):
Manfaat dan Kegunaan herbarium diantaranya, herbarium sangat penting artinya sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan penelitian dan identifikasi, hal ini memungkinkan karena pendokumentasian tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lebih lama, kegunaan herbarium lainnya yaitu sebagai berikut (Sama,2009):
1. Material
peraga pelajaran botani
2. Material
penelitian
3. Alat
pembantu identifikasi tanaman
4. Material
pertukaran antar herbarium di seluruh dunia
5. Bukti keanekaragaman
6. Spesimen
acuan untuk publikasi spesies baru (Sama,2009).
B. FAMILI
ACANTHACEAE
Acanthaceae ini adalah
sebagian besar tumbuh-tumbuh atau semak yang terdiri dari sekitar 340 marga dan
2.500 spesies, termasuk bentuk-bentuk melilit.Familia Acanthaceae
merupakan familia yang habitusnya berupa herba, perdu,pohon dan liana dengan
daun tunggal tanpa stipula serta letak daun berhadapan, perbungaan majemuk atau
tunggal , kelamin tumbuhan biseksual , simetri bunga aktinomorf, mahkota tetra
atau pentamer, sepal bersatu, petal sympetal, bilabiatus, stamen 4, dydinamus,
2 epipetal, sering terdapat staminodium, pistil 1, stylus 1, stigma 1-2, letak
ovarium superum dan buah tunggal. Familia ini terdiri dari sekitar 1000
spesies yang tergolong dalam kurang lebih 175 genus yang tersebar di daerah
tropika.
II.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Hari,
tanggal : Sabtu, 5
Desember 2015
Lokasi :
Gunung Api Purba Nglanggeran
B. Alat dan Bahan
Alat
1.
Koran
2.
Kertas A3
3.
Map
4.
Alat tulis
5.
Gunting
6.
Isolasi
7.
Sasak
8.
Etiket gantung
9.
Blangko etiket
Bahan
1.
Spesimen yang diamati (Asystasia
intrusa)
C.
Cara Kerja
1. Ambillah
sampel, berupa bagian-bagian tumbuhan yang representatif (bunga, buah, dan
biji). Bisa juga ditambahkan bagian-bagian lain yang mendukung misalnya daun,
akar, dan batang yang memiliki perawakan yang khas.
2. Letakkan
sampel tersebut di atas kertas koran, kemudian dipres dengan sasak.
3. Cara
pengepresan adalah bagian paling bawah berupa sasak kemudian disusul dengan
potongan kardus dan kertas koran di atasnya. Setiap sampel diberi pembatas
berupa kertas koran, potongan kardus digunakan untuk membatasi setiap lima
sampel. Satu set herbarium kit dapat digunakan untuk mengepres sampai 30
sampel, menyesuaikan dengan ukuran sampel-sampel tersebut.
4. Untuk
menghindari tumbuhnya jamur pada sampel-sampel tersebut dapat dilakukan dengan
menyemprotkan formalin atau alkohol.
5. Jangan lupa
untuk memberikan etiket gantung pada setiap sampel, yaitu berisi keterangan
mengenai nomor koleksi, tanggal pengambilan sampel, lokasi, dan nama jenisnya.
Penulisan keterangan tersebut dilakukan dengan pensil.
6. Keringkan
sampel-sampel tersebut dengan dijemur atau dikeringanginkan. (sampel masih
dalam keadaan dipres dengan sasak).
7. Setelah tiga
hari, umumnya sampel-sampel tersebut sudah cukup kering. Keluarkan sampel-sampel
tersebut untuk ditempelkan pada kertas herbarium (A3).
8. Sampel yang
telah dikeluarkan dari sasak harus segera ditempelkan pada kertas herbarium
dengan hati-hati.
9. Bagian
sampel yang akan direkatkan dengan selotip terlebih dahulu diberi sepotong kertas
agar bagian lem dari selotip tidak bersentuhan langsung dengan sampel.
10. Apabila
sampel terlalu besar untuk ditempelkan pada kertas A3, sampel dapat dilipat
atau dipotong pada bagian-bagian tertentu dengan hati-hati sehingga tidak
menghilangkan ciri-cirinya.
11. Lengkapi
herbarium tersebut dengan etiket tempel yang berisi keterangan mengenai
tanggal, habitatnya, klasifikasi tumbuhan tersebut dan catatan khusus (nama
daerah, manfaat).
12. Penulisan
keterangan tersebut dilakukan dengan pulpen. Etiket ini ditempelkan pada pojok
kanan bawah dengan sedikit lem pada sisi kanannya.
III.
HASIL PENGAMATAN
Gambar tanaman Rumput Israel (Asystasia gangetica)

Klasifikasi
Asystasia gangetica (Cronguist, 1981)
Regnum :
Plantae
Divisio :
Magnoliophyta/Spermatophyta
Classis : magnoliopsida/Dicotyledoneae
Ordo : Scrophulariales
Familia :
Acanthaceae
Genus : Asystasia
Species :
Asystasia intrusa
IV.
PEMBAHASAN
Dalam tugas individu ini, penulis mengidentifikasi
salah satu tumbuhan yang bernama Asystasia
intrusa. Nama lainnya adalah Asystasia
gangetica. Dalam dunia tumbuhan termasuk ke dalam famili Acanthaceae, genus Asystasia.
Asal tumbuhan ini dari Afrika. Asystasia intrusa merupakan gulma penting di
perkebunan. Akarnya melekat pada cabang.
Sistem perakaran tunggang, bercabang kecil dan memiliki bulu-bulu akar. Akar
berwarna putih kecoklatan. Asystasia
gangetica merupakan tanaman herba yang tumbuh cepat dan mudah berkembang
biak. Berbatang lunak, berwarna hijau
kecoklatan dan dapat tumbuh dalam
keadaan yang kurang baik. Duduk daun berhadapan, berbentuk bulat panjang, pangkal bulat, ujung runcing, pertulangan daun menyirip dan bertangkai.
Bunga tersusun dalam tandan yang rapat seperti bulir, berwarna putih atau
keungu-unguan, kelopak bunga menutupi ovari. Buah kotak, 2-3 cm
panjangnya, dalam satu buah kotak berbiji empat atau kurang. Saat buah belum
masak kulit buah berwarna hijau, namun saat buah sudah masak maka kulit buah
berwarna coklat. Bijinya kecil berwarna hitam kecoklat-coklatan, kecil dan ringan sehingga mudah diterbangkan
oleh angin. Biji ini pecah dari polong
dengan keadaan lingkungan yang tepat baik dari suhu dan penyinaran yang cukup. Bila
penyinaran matahari lama saat biji pecah maka jarak loncat biji semakin jauh
dari pohonnya.
Manfaat dari tumbuhan Asystasia gangetica adalah sebagai makanan kambing dan lembu. Selain itu juga digunakan
sebagai obat. Pada ekstrak daun
Asystasia gangetica berpotensi mengurangi tekanan darah, memperlambat detak
jantung, serta mencegah hipertensi spontan.
V.
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan
dunia tumbuh-tumbuhan. Terdapat dua cara pengawetan tumbuhan dalam herbarium
yaitu, herbarium kering dan herbarium basah. Salah satu fungsi herbarium adalah sebagai bahan penelitian dalam bidang
botani. Pembuatan herbarium
memiliki beberapa tahapan seperti: pengambilan sampel, proses pengeringan/
pengawetan, dan proses identifikasi/labeling.
Tumbuhan Asystasia gangetica merupakan salah satu tumbuhan dari famili
acanthaceae dan genus Asystasia. Termasuk
tumbuhan gulma dalam perkebunan. Manfaat tumbuhan ini sebagai makanan kambing
dan sebagai obat tradisional.
B. SARAN
Adapun saran dari
pembuatan herbarium adalah sebaiknya dalam membuat herbarium perlu diperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan herbarium diantaranya adalah suhu, waktu,
faktor, dan kesulitan, sehingga dapat diperoleh hasil herbarium yang maksimal.
VI.
DAFTAR PUSTAKA
Aththorick, T.A, dan Siregar E.S. 2006. Taksonomi Tumbuhan. Departemen
Biologi FMIPA USU. Medan
CRC.
2003. Weed management guide: Asystasia
gangetica ssp. micrantha. In: Alert List For Environtmental Weeds (ed.) CRC
for Australian Weed Management.
Cronquist,
A. (1981). An Integrated System of
Classification of Flowering Plants. New York: Columbia University Press
Kiew,
R., & Vollesen, K. 1997. Asystasia
(Acanthaceae) in Malaysia. Kew Bulletin 52(4):965-971
Matnawi,
H. 1989. Perlindungan Tanaman jilid 1.
Kanisius : Yogyakatra Nuraenina
Othman,
S. & Musa, M. K. 1992. The ecology of
A. intrusa BI. In: Proc. Persidangan Ekologi Malaysia. 1:91-96
Ramadhanil.
2003. Herbarium Celebense (CEB) dan
Peranannya dalam Menunjang PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. http://unsjournals.com.
Diakses pada tanggal 14 Desember 2015 pukul 19.52 wib
Sama,
Surya. 2009. Pengaweatan Tanaman dan Pengawetan Hewan.
UPI : Bandung
UPI : Bandung
Setyawan, A.
D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno,
K dan Susilowati, A. 2005. Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah.
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Suyitno,
A.L.2004. Penyiapan Specimen
Awetan Objek Biologi. Jurusan Biologi FMIPA UNY.
Yokyakarta.
Tjitrosoepomo,G.1993. Taksonomi Umum Dasar-Dasar Taksonomi
Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Triharto,
Ahmad. 1996. Dasar-dasar Perlindungan
Tanaman. Yogyakarta: UGM Press
VII.
LAMPIRAN
A. LOKASI
GOOGLE MAP
Gunung
Api Purba Nglanggeran

B. GAMBAR Asystasia
gangetica

C. SKETSA Asystasia
gangetica
